Kamis, 23 Juni 2016

TETAP TENANG DITENGAH BADAI


Ev. Hermanto Karokaro, MA.


Shalom untuk semua sahabatku  yang tinggal diberbagai tempat, saya berharap kita semua  dalam keadaan damai sejahtera, bukan karena tidak ada pergumulan tentunya. Tetapi karena tangan Tuhan yang kuat  selalu menopang kita.  Saat ini saya ingin membagikan sebuah renungan yang mungkin bisa menjadi berkat bagi  sahabat semua. “Tenang Ditengah Badai”, judul renungan yang saya tulis beberapa hari yang lalu.
Badai atau pergumulan hidup merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia.  Tidak terkecuali kita sebagai orang percaya.  Beberapa waktu yang lalu, seorang hamba Tuhan yang sangat setia melayani, diizinkan Tuhan mengidap satu penyakit dan akhirnya meninggal.  Seorang  suami  di phk karena perusahaan tempat dia bekerja mengalami kebangkrutan. Seorang ibu harus mengurus anaknya sendiri karena suaminya selingkuh dengan wanita lain. Seorang gadis hampir gila karena mendadak ditinggal tunangannya tanpa alasan yang jelas. Masih banyak lagi masalah-masalah yang tidak sempat saya tuliskan disini.  Saya  tidak tahu, mungkin ada diantara sahabat   juga sedang bergumul saat ini. Jika ada, berarti kita sama.
Apakah yang harus kita lakukan saat badai menghantam hidup kita ?  Jika sahabat membeli hp baru,  apa pun mereknya, pasti selalu ada buku petunjuknya.  Tanpa bermaksud menggurui, saya  ingin mengajak sahabat  melihat  Firman Tuhan. Karena sesungguhnya  Firman Tuhan adalah petunjuk  untuk setiap perosalan yang terjadi dalam hidup ini.

1 Kor 10:13. Inti surat ini ingin mengatakan bahwa Persoalan - persoalan yang kita alami ada dalam kontrol Tuhan. Betapa sering kita berkata   persoalan ini terlalu berat bagi saya, saya tidak akan sanggup menanggunya.    Saya mempunyai  anak laki-laki  umur 12 tahu, tidak mungkin saya suruh mengangkat  beban 100 kg, karena dia tidak akan sanggup.  Bukankah kita mempunyai  Bapa di sorga yang jauh lebih baik. Tuhan tidak pernah  izinkan pergumulan melampaui batas kekuatan kita.   Surat Paulus kepada  jemaat Roma 8:28. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Ketika Tuhan mengizinkan badai menerpa hidup kita,  Tuhan tidak pernah bermaksud jahat.  Dia adalah Bapa yang baik, Dia tahu apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Sebuah tradisi di Negara Afrika, saat seorang anak mulai beranjak remaja, maka orang tuanya (ayah)  akan membawanya ke hutan dan mengikat di sebuah pohon, anak tersebut dibiarkan sendiri melewati malam yang gelap. Dalam pikiran sianak mungkin menganggap ayahnya jahat, namun setelah pagi hari baru dia sadar, ternyata sepanjang malam ayahnya berdiri tidak jauh darinya dengan panah di tangan untuk melindunginya dirinya. Lewat kejadian malam  yang menakutkan itu, ternyata telah menghantar anak remaja ini  menjadi dewasa  dan pembrani. Setiap badai yang Tuhan izinkan membawa kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya.
Saat menyeberangi danau Galilea, rasul Petrus dan teman-teman sangat ketakutan karena tiba-tiba badai menghantam perahu mereka, Tuhan Yesus berkata dalam Matius 8:25. mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya ?  maka bangunlah Yesus menghardik danau dan badai itu, maka danau itu teduh sekali. Percaya kepada kuasa dan kebaikkan Tuhan  adalah sumber kekuatan dalam menghadapi badai kehidupan.  Percaya  memberi kita ketenangan   walaupun badainya belum berakhir.  Jika saat ini sahabat sedang bergumul dan mungkin  pergumulan hampir membuat saudara putus asa, ingatlah perkataan Yesus, Jangat Takut tetaplah percaya. Kuasa dan kebaikan Tuhan tetap sama dahulu, sekaran dan  selamnya.    Sementara Rasul Paulus dalam penjara  menunggu pelaksanaan hukuman mati,  Paulus tidak kehilangan sukacita.  Dari dalam penjara Paulus menulis surat Filipi (surat sukacita) untuk menguatkan dan menghibur jemaat Filipi. Jangan izinkan persoalan hidup merampas sukacita kita. Ratapan 3:22-23 Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis- habis rahmatNya. selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu. Badai itu mungkin belum berlalu, namu nikmatilah sukacita dari Tuhan yang selalu baru setiap pagi.

Salam,

Kamis, 15 Oktober 2015

MENCINTAIMU SELAMANYA

Oleh: Ev. Hermanto Karokaro, MA

Pak, boleh nggak saya bercerai, soalanya saya sudah tidak kuat hidup bersamanya ? Pertanyaan ini pernah dilontarkan oleh seorang klien yang usia pernikahannya baru 6 bulan. Saya yakin sebagai seorang Kristiani dia paham bahwa dalam iman Kristen  tidak boleh bercerai.  Saya tidak mejawab pertanyaan klien tersebut, melainkan saya bertanya kembali, mengapa harus bercerai ?   Dia menjelaskan banyak alasan, pasangannya selingkuh, sering dihina dan kami sudah tidak salaing mencintai lagi.   Perceraian memang sering menjadi pilihan terakhir banyak  pasangan  ketika  mereka sudah merasa tidak nyaman lagi untuk tinggal bersama.

Bertahan dalam sebuah pernikahan yang sudah dingin memang sangat tidak nyaman. Masih tinggal serumah tetapi sudah tidak ada komunikasi, tinggal satu rumah tetapi tidur  sudah beda kamar.  Pernikahan hanya  sekedar untuk mempertahankan status karena malu dengan keluarga  atau memilih tetap bertahan karena agama melarang untuk bercerai. Tak jarang juga pernikahan masih bertahan karena merasa kasihan dengan anak-anak. Jika alasan ini yang menjadi dasar untuk mempertahankan sebuah pernikahan, maka sudah bisa dipastikan pernikahan ini akan menjenuhkan bahkan kemungkinan satu saat akan kandas.

Pernikahan itu harus dibangun atas dasar cinta yang dianugerahkan Tuhan. Saya percaya setiap pasangan yang telah memutuskan untuk menikah, mereka tadinya  tentu saling mencintai dan cinta itu sendiri adalah  suci. Itu sebabnya ketika  sepasang anak manusia akan menikah, mereka mengucapkan janji setia untuk tetap saling mencintai sampai ajal memisahkan.  Ketika Tuhan telah menyatukan dua insan dalam sebuah pernikahan, maka Tuhan juga akan terus hadir dalam pernikahan tersebut. Sebelum menikah Tuhan yang menumbuhkan cinta dan setelah menikah  sesungguhnya Tuhan terus memberikannya sejauh manusia itu menyadarinya.  Saya sering mendengar pasangan yang akan menikah berkata, mengapa kalian menikah ? jawabnya  sudah kehendak Tuhan dan  kami saling mencintai.  Beberapa waktu kemudian, mereka berkata sudah kehendak Tuhan kami berpisah karena kami sudah tidak saling mencintai lagi. Pertanyaanya, benarkah itu kehendak Tuhan. Mungkinkah Tuhan tidak lagi meberi rasa cinta di hati mereka ?


Bersambung………………………

Sabtu, 03 Oktober 2015

DAMAI ITU MENYEHATKAN

Oleh: Ev. Hermanto Karokaro


Sungguh alangkah indah dan alangkah baiknya jika kita hidup rukun satu dengan yang lain. Dengan hidup rukun kita bisa mengerjakan banyak hal,  memikirkan hal-hal yang lebih besar untuk kebaikan bersama.  Energi dan emosi kita terpakai secara efektif untuk kebaikan.  Siapakah yang tidak ingin hidup sehat, namun hidup sehat itu sangat erat kaitannya dengan perasaan damai. Jika kita memiliki hati yang damai, maka tubuh kita akan lebih sehat dibandingkan dengan jika hati kita menyimpan marah, benci dan dendam. Tuhan pun senang dengan orang-orang yang mau hidup berdamai, bahkan jika dihati kita masih menyimpan kebencian terhadap seseorang,  kita disuruh menyelesaikannya sebelum datang beribadah kepada Tuhan. Seorang raja yang bijaksana dalam Alkitab berkata bahwa,  “Tuhan akan memberikan rejeki kepada orang-orang yang mau hidup berdamai”. Sepertinya pernyataan ini memang benar. Seandainya kita belanja sesuatu, tentu kita akan memilih belanja ke toko dimana  harganya murah dan penjualnya berlaku ramah dan baik pula.  Apakah saudara sudah berdamai ?

Jumat, 06 Februari 2015

IMAN YANG MENDATANGKAN MUJIZAT

Markus  5:21-43

Oleh Ev. Hermanto Karokaro, MA

Iman memang banyak sisinya, bahkan Firman Tuhan berkata, segala sesuatu yang kita lakukan harus dengan iman sebab jika tidak, kita berdosa  (Roma 14:23).  Saat berdoa kita harus beriman, saat menaikkan puji-pujian harus dengan iman, bahkan saat masak, menyetir  dan menawar Bajja harus dengan iman. Namun dalam Markus 5 : 21-43  kita menemukan  dua tokoh yaitu;  Yairus kepala Bait Allah dan Perempuan yang sakit pendarahan 12 tahun. Iman yang mereka miliki membuahkan mujizat. Tentu menarik untuk dipelajari,  Seperti apakah iman mereka ?

1.   Tidak ada manusia yang Anti terhadap masalah.
Jika hanphone ada anti gores dan cat ada anti bocor, tidak demikian dengan manusia. Setiap manusia rentan dengan masalah atau pergumulan. Pergumulan tidak memilih-milih orang, Yairus seorang  yang bekerja di Bait Allah  anaknya sakit parah bahkan sempat meninggal. Demikian juga Perempuan yang sakit pendarahan 12 tahun, dia memang bukan dari kelompok orang-orang yang sudah dekat dengan Tuhan. Perempuan ini hanya baru mendengar tentang Yesus dan mungkin belum pernah bertemu sebelumnya. Dan dia pun mengalami masalah juga, bahkan sangat komplek, sakit secara fisik, ekonomi, dan kerohanian.   Ini membuktikan bahwa siapa pun bisa mendapat masalah. Tetapi ada hal yang menarik dari dua tokoh ini. Yairus  anaknya bangkit dan Perempuan ini sembuh dari penyakit pendarahannya.  Mungkin kita bertanya kenapa bisa ?

2.   Mendengar   Firman Tuhan
Yairus dan Perempuan yang sakit pendarahan ini  imannya muncul karena mereka  mendengar Firman Tuhan, yang pada waktu itu disampaikan langsung oleh Tuhan Yesus.  Yairus sering mendengar Yesus mengajar di Bait Allah. Sementara Perempuan ini  mendengar cerita orang tentang Yesus (ayat 27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus,…)   sehingga timbul imannya.  Bandingkan dengan (Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.)  Iman kita tidak mungkin timbul lewat nonton sinetron, baca berita politik, olah raga, apalagi saat menggosip, dll. Jika kita ingin punya iman yang mendatangkan mujizat, maka yang pertama kita harus menyukai dan mendisiplin diri untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan, bukan yang lain. Masihkah kita memiliki kerinduan  dan setia untuk membaca Firman Tuhan ?

3.   Memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan
Saat bertemu dengan Yesus  Yairus tersungkur (ayat 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya ), demikian juga dengan Perempuan yang sakit pendarahan, dia mendekati Yesus dari belakang dan berusaha menjamah jubah-Nya. Sikap mereka ini menunjukkan sikap hormat dan penuh kerinduan akan Tuhan Yesus.  Salah satu  iman yang mendatangkan mujizat adalah  hubungan yang intim dengan Tuhan. Hubungan yang intim membuat iman kita makin teguh. Kita semakin peka akan suara Tuhan. kesaksian seorang pendeta yang intim dengan Tuhan, berdoa untuk istrinya yang meninggal lalu bangkit. Namun setelah bangkit istrinya protes mengapa dibangkitkan, akhirnya mati lagi  dan enggak bangkit. Hubungan intim dengan Tuhan adalah rahasi kedua agar memiliki iman yang mendatangkan mujizat. Bagaimana hubungan kita dengan Tuhan hari-hari ini.

4.   Percaya penuh kepada kuasa Tuhan
Yairus dan Perempuan yang sakit pendarahan memiliki kesamaan dalam mempercayai kuasa Tuhan. perhatika kata-kata mereka ( Ayat 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.. ( 28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.").  Yairus tidak meragukan Tuhan, meski kata orang-orang anaknya sudah meninggal, Yairus tetap fokus kepada Tuhan, dia tidak memfokuskan pikirannya kepada kata-kata orang, meskipun kenyataannya anaknya sudah meninggal. Sama halnya dengan wanita pendarahan, dia fokus kepada kuasa Tuhan, bukan kepada parahnya sakitnya. Tetapi fokus kepada kuasa Tuhan yang sanggup menyembuhkannya. Sering sekali mujizat tidak terjadi karena kita fokus kepada beratnya persoalan, sehingga iman kita tergerus dan muzijat tidak terjadi. Pelajaran yang sangat penting bagi seorang pilot adalah, mereka harus fokus kepada landasan pesawat yang telah disediakan, bukan kepada bagian landasan yang lain yang dapat mencelakakan pesawat.

Akhirnya, jika kita ingin memiliki iman yang dapat mendatangkan mujizat, cintailah Firman Tuhan, bergau intimlah dengan Tuhan dan Fokuslah pada Kuasa Tuhan. Dan semuanya adalah untuk kemuliaan Tuhan.

Tuhan Yesus Memberkati.
Amin.


Senin, 13 Oktober 2014

PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN IMAN KRISTEN

Oleh: Ev. Hermanto Karokaro, MA



Pernikahan dalam pandangan iman  Kristen bukanlah sekedar keinginan manusia. Tetapi pernikahan  adalah sebuah kehendak Tuhan.  Dalam perjanjian Lama, Pernikahan merupakan lembaga pertama yang didirikan oleh Tuhan. Tuhanlah yang merancang pernikahan, Tuhanlah yang mempersatukan Adam dan Hawa sebagai satu keluarga. Mengutip pendapat John Stoot, “ Perkawinan bukanlah temuan manusia. Ajaran Kristen tentang topik ini diawali dengan penegasan penuh kegembiraan bahwa perkawinan adalah gagasan Allah, bukan gagasan manusia… Perkawinan sudah ditetapkan Allah pada masa sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Hal yang sama dalam Perjanjian Baru, Yesus dan Paulus memandang pernikahan adalah sebuah lembaga yang sangat penting. Ketika pernikahan di kota Kana Yesus melakukan mujizat pertama.  Mengutip Yohanes 2:4 “Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba. Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu! “. Yesus sempat berargumen bahwa waktunya belum tiba untuk menyatakan diri, tetapi demi menolong sebuah pernikahan yang sedang dalam masalah karena kekurangan anggur, maka Yesus melakukannya. Hal ini membuktikan bahwa Yesus menganggap pernikahan sesuatu yang sangat penting.

Pernikahan Kristen merupakan sebuah perjanjian (covenant). Perjanjian bukan sekedar janji antara manusia yang sering berubah. Janji dalam sebuah pernikahan melibatkan Allah, artinya suatu janji yang tidak bisa dibatalkan dan merupakan ikatan seumur hidup. Itu sebabnya dalam pernikahan Kristen sering  disebut trialog (pria – wanita dan Tuhan). Tuhan hadir  dan menjadi  kepala dalam pernikahan tersebut. Jika dalam keluarga, Allah dijadikan kepala maka Allah akan terus melakukan intervensi sehingga pasangan-pasangan yang menikah terus bertahan dalam satu keluarga yang utuh sekalipun dalam perjalanannya menghadapi banyak tantangan.  Tetapi sebaliknya jika Pernikahan hanya dipandang sebagai keinginan manusia semata maka ikatan pernikahan sangat rapuh dan mudah putus. Itulah yang terjadi pada banyak pernikahan zaman modern ini, terlebih pasangan para selebritis. Dulu waktu menikah ditanya mengapa menikah jawabnya sangat ilahi, atas kehendak Tuhan. Tetapi setelah menikah mengalami masalah lalu bercerai, kemudian ditanya mengapa bercerai jawabannya kembali sangat ilahi, sudah kehendak Tuhan. Benarkah atas kehendak Tuhan bercerai ? Tentu tidak. Atau mungkin pernikahan dipandang sebagai sebuah janji ilahi tetapi jika dalam perjalanan rumah tangga tidak melibatkan Tuhan maka dapat dipastikan pernikahan itu menjadi sesuatu yang hambar dan bukan tidak mungkin suatu saat akan kandas di tengah jalan.
Ketika Tuhan membangun sebuah keluarga tujuannya jelas, sebagaimana dicatat dalam kitab Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Tuhan ingin supaya dari keluarga-keluarga yang diberkati lahir keturunan-keturunan ilahi yang mempermuliakan Tuhan. Seperti yang dicatat dalam kitab Maleakhi 2:15 “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isterinya. “Allah Tritunggal pada awal penciptaan menyadari bahwa ada kemungkinan manusia akan jatuh ke dalam dosa. Itu sebabnya terjadi dialog, bagaimana seandainya manusia ciptaan Kita jatuh ke dalam dosa, padahal tujuan Kita menciptakan manusia supaya menyembah Kita. Maka dalam dialog itu sang Putera (Yesus ) disepakati akan turun ke dunia untuk menyelamatkan dan ditetapkan bahwa keluarga Yusuf dan Maria akan menjadi keluarga Yesus.

Banyak orang terjebak dengan pandangan umum tentang tujuan pernikahan. Sudah menjadi pendapat semua orang bahwa tujuan pernikahan adalah supaya hidup bahagia. Sehingga tidak jarang banyak orang akhirnya kecewa dengan pernikahannya karena ternyata dia tidak bahagia. Dan terjadinya banyak perceraian alasan utamanya adalah karena sudah tidak mendapat kebahagiaan lagi. Maka dari itu dimulai dari sini, bahwa tujuan pernikahan bukanlah untuk mendapat kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan merupakan akibat dari pernikahan yang mengalami pertumbuhan. Jika masing-masing pasangan bertumbuh maka implikasinya adalah mereka akan mendapatkan kebahagiaan. Maka tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan tetapi pertumbuhan (grow)

Pernikahan Kristen dirancang Tuhan monogami. Ketika Tuhan melihat Adam sendirian, Tuhan menciptakan Hawa sebagai pasangan Adam yang berperan sebagai penolong. Tuhan tidak menciptakan Hawa-hawa, tetapi hanya menciptakan satu Hawa. Maka dari itu pernikahan Kristen harus monogami. Memang dalam Perjanjian Lama banyak ditemukan terjadi praktek poligami, tetapi sesungguhnya itu bukanlah rancangan Tuhan. Dalam perjanjian Baru baik Yesus maupun Paulus sangat menekankan bahwa pernikahan yang dianjurkan adalah monogami. Mengutip tulisan Paulus I Korintus 7:2 “tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” Dengan kata lain perkawinan yang melibatkan wanita/pria lebih dari satu adalah percabulan.


Jumat, 10 Oktober 2014

BUTIRAN MUTIARA HATI

Ev. Hermanto Karokaro, MA


Cerita tentang Ayub mungkin sudah sering kita dengar, sejak di sekolah Minggu bahkan setelah kita dewasa sekarang. Beberapa waktu yang lalu, saat renungan pagi saya kembali membaca kisah Ayub dibagian awal, tepatnya pasal pertama dan hanya 4 ayat saja. Tetapi dari ayat-ayat itu saya menemukan butiran-butiran hikmat yang membuat saya makin memahami arti hidup. Roh Tuhan seperti mengajari saya dengan penuh kelembutan, sampai-sampai saya mengangguk-anggukan kepala sendiri. Lewat tulisan yang singkat dan sederhana ini saya ingin berbagi dan mudah-mudahan jadi berkat bagi saudara – saudaraku dalam Tuhan.


Butir pertama:
Ayub seorang yang menyembah dan setia kepada Allah.  

Kebermaknaan  dan kebahagiaan hidup Ayub dimulai dari sini. Saat Ayub memutuskan untuk menyembah kepada Allah dengan setia.  Hidup yang bermakna dan bahagia adalah ketika kita mengarahkan hidup kepada Allah dan menjadikan Dia di atas segalanya. Di atas harta kita, jabatan kita, bahkan segala hal  yang ada didunia ini. Jangan tertipu dengan segala iming-iming dunia ini. Dibagian yang lain, Salomo seorang raja yang sangat kaya pada zamannya berkesimpulan, bahwa tanpa Tuhan semua  akan  menjadi sia-sia. Terkadang ada orang rela menggantikan Tuhan demi jabatan, harta, jodoh, dll. Pada akhirnya hidup mereka sangat memprihatinkan.  Secara pandangan mata terlihat bahagia, dapat jabatan, harta melimpah, dll. Tetapi jauh didalam hati,  mereka  sangat tertekan, kosong  dan kesepian.  Tanpa perlu penjelasan panjang, jika kita ingin hidup berarti,  damai dan sejahtera secara utuh, jadikan Tuhan sebagai fokus hidup kita.

Butir kedua:
Ayub Orang yang baik budi.

Kebermaknaan dan kebahagiaan hidup Ayub berikutnya adalah, ketika Ayub memutuskan untuk menjadi orang yang baik budi. Ayub tidak berhenti hanya menyembah Tuhan. tetapi Ayub juga berhasil mengemplementasikan hubungannya dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.  Ayub dikatakan orang yang baik budi. Prilaku Ayub yang baik itu datang dari hatinya, dan hal itu adalah hasil dari relasinya dengan Tuhan. Ayub melakukan segala yang baik dengan tulus, tanpa motivasi yang terselubung. Ketika  Ayub menolong orang lain, dia melakukannya dengan tulus.  Saat Ayub menegur orang yang salah  dia menegur dengan tulus. Tidak ada kepura-puraan dalam hidup Ayub.  Relasi kita dengan Tuhan memang sangat penting, tetapi apakah relasi kita dengan Tuhan berdampak kepada hidup kita sehari-hari, ini merupakan hal yang tidak bisa kita abaikan. Kebermaknaan hidup akan menjadi utuh ketika kita berhasil mengemplementasikan relasi kita dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin bisa berkata, setiap hari saya baca Alkitab, berdoa bahkan berpuasa. Tetapi yang tidak kalah penting adalah apa kata orang tentang kita. Alkitab berkata, Ayub adalah seorang yang baik hati. Biarlah kebaikan hati kita  sebagai hasil dari relasi kita yang intim dengan Tuhan  bisa dirasakan oleh semua orang.


Bersambung,…

Natntikan….butir berikutnya

Selasa, 07 Oktober 2014

UNTUK DIRENUNGKAN

Oleh: Ev. Hermanto Karokaro, MA


Keluaran   14:31 Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.


Bangsa Israel banyak mengalami muzijat Tuhan, ketika akan keluar dari Mesir Tuhan melakukan sepuluh muzijat yang sangat besar. Bahkan ketika sudah keluar dari Mesir, Tuhan melakukan mizijat dengan membelah laut merah.  Tidak berhenti sampai disitu, Tuhan terus melakukan muzijat demi muzijat; mendatangkan manna, burung puyuh, tiang api dan tiang awan,dll. Kalau diselidiki tujuannya adalah supaya umat Israel sungguh percaya kepada TUHAN.  Supaya umat Israel sungguh berakar dan teguh beriman pada TUHAN. Tentu hal ini sangat penting bagi Tuhan karena lewat bangsa inilah kelak nama TUHAN diagungkan, lewat bangsa inilah keselamatan dari Allah dinyatakan.  Namun dalam perjalanan sejarah, bangsa Israel banyak mengecwakan Tuhan. Muzijat yang Tuhan buat ternyata tidak terlalu efektif membuat bangsa ini setia. Justru muzijat yang Tuhan buat berdampak pada mental Israel yang cengeng dan kekanak-kanakan. Setiap ada masalah mengancam musa dan ingin kembali ke Mesir. Yesus pada awal pelayanan-Nya memang banyak melakukan muzijat, seperti merubah air jadi anggur, menyembuhkan orang sakit kusta, memberi makan lima ribu orang, dll. Tetapi menjelang akhir pelayanan-Nya, Yesus jarang melakukan muzijat, bahkan pernah menegur orang banyak karena alasan mereka ikut Tuhan karena muzijat bukan karena mereka cinta Tuhan.

Menilik kepada kehidupan umat percaya hari ini. Banyak orang percaya mengejar muzijat, bahkan banyak hamba Tuhan mengklaim dirinya punya karunia pembuat muzijat. Gereja yang menekankan muzijat biasanya banyak didatangi oleh orang percaya. Memang muzijat adalah salah satu sarana yang sering Tuhan pakai untuk membangkitkan iman seseorang. Dan sebagai hamba Tuhan saya sangat percaya bahwa muzijat Tuhan masih ada sampai hari ini,  Namun muzijat tidak selalu membuat orang jadi percaya dan dewasa. Lihatlah orang Yahudi yang sudah melihat banyak muzijat, toh mereka tetap tidak percaya. Maaf,  sesungguhnya iblispun bisa membuat muzijat “. Karena itu sebagai orang percaya yang sudah dewasa, muzijat bukan lagi hal yang utama dalam kita mengikut Tuhan. Ada atau tidak ada muzijat, Tuhan tetap baik dan Tuhan tetap berkuasa.  Sembuh atau tidak sembuh penyakit kita, tidak mengurangi kasih dan kemahakuasaan Tuhan atas hidup kita. Karena itu  sebagai orang Krsiten yang dewasa mari kita ikut Tuhan karena kita mencintai Dia, bukan sekedar menginginkan muzijat-Nya

Amin.